Ochamutz91's Blog











{Mei 29, 2010}   KESULITAN BELAJAR MENULIS (DISGRAFIA) – HANDWRITING

A. LATAR BELAKANG

Kesulitan belajar (learning disabilities) pada anak, bila tidak dideteksi secara dini dan tidak dilakukan terapi secara benar, bisa menyebabkan kegagalan dalam proses pendidikan anak. Kepedulian orang tua yang tinggi dapat membantu dalam deteksi dini kesulitan belajar ( learning disabilities) pada anak. Ada dua jenis kesulitan belajar (learning disabilities), yaitu yang bersifat developmental dan yang bersifat akademis. Komponen utama dari developmental learning disabilities adalah perhatian, memori, persepsi, dan kerusakan persepsi motori, selain kerusakan berpikir dan kekurangan bahasa. Di dalam kelompok ini, sejumlah anak yang memiliki kesulitan belajar khusus ( specific learning difficulty, SpLD) atau kesulitan belajar akademis dideskripsikan sebagai mereka yang memiliki kesulitan dalam aspek bahasa, membaca, mengeja, dan matematika. Meskipun fungsi inteligensinya normal dalam arti intelektual, mereka mengalami kesulitan yang signifikan sekalipun tingkat kinerjanya secara umum baik.

Untuk selanjutnya, paper ini relatif banyak akan menjelaskan mengenai kesulitan menulis (disgrafia) terutama handwritingkarena kecenderungan yang terjadi saat ini, dimana banyak siswa-siswa Sekolah Dasar (permulaan SD, kelas I – III) yang mengalami kesulitan dalam menulis, bukan karena tulisan mereka yang buruk, mungkin cara dan strateginya yang belum tepat diterapkan pada siswa-siswa tersebut sehingga mereka mengalami kesulitan sewaktu menulis. Padahal, kemampuan menulis sangatlah diperlukan, baik dalam kehidupan di sekolah maupun di masyarakat guna keperluan penyelesaian tugas-tugas sekolah. Sedangkan, di dalam kehidupan bermasyarakat, orang memerlukan kemampuan menulis untuk keperluan berkirim surat, mengisi formulir, ataupun membuat catatan. Jadi, menulis bukan hanya kegiatan menyalin tetapi juga mengekspresikan pikiran, ide, dan perasaan ke dalam lambang-lambang tulisan.

B. PEMBAHASAN

1. PENYEBAB

Sebagai langkah awal dalam menghadapinya, orang tua harus paham bahwa disgrafia bukan disebabkan tingkat intelegensi yang rendah, kemalasan, asal-asalan menulis, dan tidak mau belajar. Gangguan ini juga bukan akibat kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap si anak, ataupun keterlambatan proses visual motoriknya. Namun, kita dapat mengenali ciri-ciri ataupun gejala-gejala yang muncul pada anak yang mengalami disgrafia, antara lain:

  1. Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.
  2. Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
  3. Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
  4. Anak tampak harus berusaha keras saat mengkomunikasikan suatu ide, pengetahuan, atau pemahamannya lewat tulisan.
  5. Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap. Caranya memegang alat tulis seringkali terlalu dekat bahkan hampir menempel dengan kertas.
  6. Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah terlalu memperhatikan tangan yang dipakai untuk menulis.
  7. Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional.
  8. Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.

Setelah melihat adanya gejala, maka kita dapat mengidentifikasi untuk mengetahui penanganan selanjutnya karena menulis merupakan suatu proses dimana proses belajar menulis ini melibatkan rentang waktu yang panjang. Selain itu, proses belajar menulis tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan proses belajar berbicara dan membaca.

2. ASESMEN

Tujuan utama dalam pengajaran menulis adalah keterbacaan. Untuk dapat mengkomunikasikan pikiran dalam bentuk tertulis, pertama-tama anak harus dapat menulis dengan mudah dan dapat dibaca. Oleh karena itu, perlu dilakukan asesmen. Asesmen itu sendiri dapat dilakukan secara tidak langsung dan asesmen langsung.

a) Asesmen Tidak Langsung

  • Untuk melakukan asesmen tidak langsung terhadap anak, kita dapat mengumpulkan informasi-informasi penting mengenai kemampuan mengeja dan menulis melalui asesmen secara langsung.
  • Analisa yang dilakukan harus relevan antara data yang ada dengan observasi langsung atau tidak teridentifikasi melalui observasi langsung yang didapat dan telah memenuhi informasi-informasi penting sebagai hipotesa akhir.
  • Persepsi Guru
  • Data yang ada: Sumber data bisa didapat dari berbagai sumber, antara lain: data dari sekolah, latihan yang diberikan, tanggapan guru, dan contoh tugas harian.
  • Mengatur dan mengklasifikasikan informasi yang didapat melalui asesmen secara tidak langsung, hasilnya akan valid dan menjadi hipotesa apabila telah melalui asesmen secara langsung.
  • Lakukanlah pencatatan untuk menganalisa kesalahan dalam penulisan huruf yang dilakukan oleh siswa.

b) Asesmen Langsung

Asesmen secara langsung terdiri dari 3 bagian tugas yang harus dipenuhi, yaitu:

  • Melakukan observasi terhadap siswa dalam melakukan pembelajaran di dalam kelas.
  • Melakukan interview pada siswa.
  • Mengatur dan menjelaskan tes secara individual.

Form: Asesmen Handwriting

Tanggal Asesmen Tahap Perkembangan Tanggal Dicapai
Anak memasukkan krayon ke mulut dan meremas kertas
Anak menusukkan krayon ke kertas
Anak dapat mencoret scribbles secara acak
Anak dapat membuat coretan scribble secara spontan dengan arah vertikal
Anak dapat membuat coretan scribble secara spontan dengan arah vertikal
Anak dapat membuat scribble secara spontan dengan arah memutar
Anak dapat mengimitasi scribble dengan arah horisontal
Anak dapat mengimitasi scribble dengan arah vertikal
Anak dapat mengidentifikasikan posisi: kanan – kiri
Anak dapat mengidentifikasikan posisi: atas – bawah
Anak dapat mengidentifikasikan posisi: tengah
Anak mampu mengimitasi garis horisontal
Anak mampu mengimitasi garis vertikal
Anak mampu mengimitasi garis melingkar
Anak mampu mengkopi garis horizontal
Anak mampu mengkopi garis vertical
Anak mampu mengkopi lingkaran
Anak mampu mengimitasi tanda plus
Anak mampu mengkopi tanda plus
Anak mampu mengimitasi garis diagonal ke bawah dan ke atas dengan arah ke kanan
Anak mampu mengkopi garis diagonal ke bawah dan ke atas dengan arah ke kanan
Anak mampu mengimitasi bentuk kotak
Anak dapat mengkopi bentuk kotak
Anak mampu mengimitasi garis diagonal ke bawah dan ke atas dengan arah ke kiri
Anak mampu mengkopi garis diagonal ke bawah dan ke atas dengan arah ke kiri
Anak mampu mengimitasi tanda X
Anak dapat mengkopi tanda X
Anak mampu mengimitasi bentuk segitiga
Anak dapat mengkopi bentuk segitiga
Anak mampu mengimitasi bentuk belah ketupat
Anak dapat mengkopi bentuk belah ketupat

Tanggal Asesmen:

Komentar:

____________________________________________________________________________________________________________________________________

3. STRATEGI

Untuk para orang tua/guru/orang-orang yang dekat dengan anak, kesulitan belajar menulis (disgrapia) sering terkait dengan beberapa hal di bawah ini, antara lain :

  • Positioning => Untuk mendukung pada tulisan anak, ingatkan agar duduk dengan posisi yang benar karena kestabilan trunk akan mendukung pada kontrol lengan yang baik pula.
  • Ukuran Kursi yang Tepat => Ingatkan anak agar duduk dengan posisi:
  1. 1. kaki flat di lantai dan posisi paha paralel dengan lantai.
  2. 2. Pergelangan kaki, lutut, dan paha membentuk sudut 900.
  3. 3. Pastikan tempat duduk tidak terlalu lebar, sehingga anak dapat bersandar dengan nyaman. Lebar lutut belakang ke kursi sekitar 2″. Kita harus dapat meletakkan satu jari atau dua jari di sela paha dan kursi.
  4. 4. Pastikan sudut kursi tidak membuat anak mengarah ke belakang.
  • Posisi Kursi yang Benar => Pastikan anak duduk secara nyaman dan agak condong ke depan dan ke arah depan. Lengan saat diletakkan di atas meja berada di sudut 300.
  • Modifikasi => Pemberian alat Bantu bidang miring akan membantu anak supaya duduk lebih tegak, sehingga tidak banyak menekuk lehernya dan ketika sedang mengerjakan tugas pada bidang miring itu akan membuat secara otomatis ekstensi pergelangan tangannya sehingga mampu menulis.
  • Posisi kertas
    • Saat duduk dengan tepat, anak seharusnya meletakkan kertas di atas meja dan di bawah yang menulis membentuk formasi segitiga.
    • Sudut kertas seharusnya:
  1. 200-450, bagi anak yang tangan kanannya dominan.
  2. 300-450, bagi anak yang tangan kirinya dominan.

C . KESIMPULAN DAN SARAN

1. KESIMPULAN

Menulis adalah salah satu komponen sistem komunikasi yang menggambarkan pikiran, perasaan, dan ide ke dalam bentuk lambang-lambang dan bahasa grafis. Menulis tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan proses belajar bicara dan membaca. Oleh sebab itu, untuk dapat mengkomunikasikan pikirannya dengan mudah dalam bentuk tertulis, anak harus dapat menulis dengan benar dan dapat dibaca.

Dengan demikian, pengajaran menulis pada tahap awal haruslah difokuskan pada cara memegang alat tulis dengan benar, menulis huruf cetak dan huruf bersambung dengan benar, dan menjaga jarak serta proporsi huruf secara benar dan konsisten.

Untuk itu, hal yang perlu diingat dalam mengajarkan menulis adalah kemampuan anak dalam keterampilan berbahasa lainnya, yaitu mendengarkan, berbicara, dan membaca haruslah ditingkatkan penguasaannya karena untuk dapat menulis dengan baik, seorang anak harus dapat berpikir, membaca, dan memahami bahasa orang lain secara logis dan rasional.

2 . SARAN

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua/guru untuk membantu anak yang mengalami gangguan ini, diantaranya:

  1. Memahami keadaan anak/siswa.
    Sebaiknya pihak orang tua, guru, atau pendamping memahami kesulitan dan keterbatasan yang dimiliki anak disgrafia. Berusahalah untuk tidak membandingkan anak seperti itu dengan anak-anak lainnya. Sikap itu hanya akan membuat kedua belah pihak, baik orang tua/guru maupun anak merasa frustrasi dan stres. Jika memungkinkan, berikan tugas-tugas menulis yang singkat saja. Atau bisa juga orang tua
  2. Meminta kebijakan dari pihak sekolah untuk memberikan tes kepada anak dengan gangguan ini secara lisan, bukan tulisan.
  3. Menyajikan tulisan cetak
    Berikan kesempatan dan kemungkinan kepada anak disgrafia untuk belajar menuangkan ide dan konsepnya dengan menggunakan komputer atau mesin tik. Ajari dia untuk menggunakan alat-alat agar dapat mengatasi hambatannya. Dengan menggunakan komputer, anak bisa memanfaatkan sarana korektor ejaan agar ia mengetahui kesalahannya.
  4. Membangun rasa percaya diri anak
    Berikan pujian wajar pada setiap usaha yang dilakukan anak. Jangan sekali-kali menyepelekan atau melecehkan karena hal itu akan membuatnya merasa rendah diri dan frustrasi. Kesabaran orang tua dan guru akan membuat anak tenang dan sabar terhadap dirinya dan terhadap usaha yang sedang dilakukannya.
  5. Latih anak untuk terus menulis
    Libatkan anak secara bertahap, pilih strategi yang sesuai dengan tingkat kesulitannya untuk mengerjakan tugas menulis. Berikan tugas yang menarik dan memang diminatinya, seperti menulis surat untuk teman, menulis pada selembar kartu pos, menulis pesan untuk orang tua, dan sebagainya. Hal ini akan meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia dan membantunya menuangkan konsep abstrak tentang huruf dan kata dalam bentuk tulisan konkret.

D . BAHAN BACAAN

  1. Abdurrahman, Mulyono. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta
  2. Gunadi, Tri. Pelatihan Terapis di Hotel Marcopolo, Jakarta.
  3. http://www.bintangbangsaku.com/
  4. http://ld-online.com/
  5. http://members.aol.com/signwrite2/kids/
  6. Yusuf, Mumawir (2005). Pendidikan Bagi Anak Dengan Problema Belajar. Jakarta

http://www.bintangbangsaku.com/kumpulan-paper-dan-makalah/kesulitan-belajar-menulis

About these ads


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: