Ochamutz91's Blog











{Mei 12, 2010}   Apa itu Autisme
Kalau dilihat sepintas, anak penyandang autis itu tidak berbeda dengan anakanak
lain, tapi kala dia ber-interaksi dengan teman2 nya, baru akan terlihat
“keunikan” anak itu. Dari cara berbicara maupun cara berkomunikasi sangat
berbeda dengan anak-anak lain seusianya.
Kebanyakan dari anak penyandang autis itu:
Walaupun tidak bisu, tapi terlambat “berbicara”,
Walaupun tidak tuli, tapi tidak biasa “mendengar”,
Walaupun tidak suka bertatap mata, tapi tetap “melihat”,
Saya katakan “kebanyakan” karena tidak semua illustrasi yang saya tulis di atas
itu ada pada anak-anak autis.
Yang pasti autisme itu bukan penyakit, tapi berupa “gangguan perkembangan”.
Autisme atau biasa disebut ASD (Autistic Spectrum Disorder) adalah gangguan
perkembangan fungsi otak yang komplex dan sangat bervariasi (spektrum).
Biasanya gangguan perkembangan ini meliputi cara berkomunikasi, ber-interaksi
sosial dan kemampuan ber-imajinasi. Dari data para ahli diketahui penyandang
ASD anak lelaki lebih banyak (empat kali lebih banyak) dibanding penyandang
ASD anak perempuan.
Sengaja saya sebut sebagai “penyandang” bukan “penderita” karena memang
Autisme dipercaya adalah bukan suatu penyakit seperti penyakit flu, pusing atau
sejenisnya yang bisa dengan mudah sembuh dengan obat tertentu.
Secara sekilas, penyandang autis bisa terlihat seperti anak dengan
keterbelakangan mental. Tapi sebenarnya sangat berbeda. Diagnosa yang akurat
dapat membantu para dokter/ahli menentukan terapi apa yang tepat. Selain itu
perlu diketahui bahwa Autis itu adalah Spektrum Autis. Karena “spektrum”
maka jenis/ciri penyandang autis itu ada banyak, untuk gampangnya sering
orang menyebutnya sebagai autis yang “sangat berat”, “berat”, “agak berat”,
“ringan”, “agak ringan”, dan “sangat ringan”…… Walaupun sebenarnya banyak
ahli mengatakan bahwa penggunaan istilah berat/parah dan ringan/tidak parah
bisa menyesatkan. Istilah berat/parah tentu akan membuat orang tua merasa
frustrasi dan sebaliknya jika dikatakan ringan, maka orang tua akan merasa
senang dan lengah serta berhenti berusaha karena merasa anaknya akan sembuh
sendiri.
Pada kenyataannya, baik ringan ataupun berat, tanpa penanganan terpadu dan
intensif, penyandang autisme sulit untuk mandiri dan hidup normal seperti
layaknya anak/orang kebanyakan. Ini yang membuat orang tua akan merasa
seperti di “samber geledek” saat pertama menerima diagnosa bahwa anaknya
positif autistik. Apalagi kesadaran masyarakat kita untuk menerima “perbedaan”
masih sangat kurang. Ditambah pemerintah juga yang belum terlalu “aware”
akan anak dengan kebutuhan khusus seperti ini. Sekolah juga belum semua mau
menerima anak-anak penyandang autisme dengan tangan terbuka. Maka bisa
dibayangkan “perjuangan” yang harus dilalui oleh para orang tua anak
penyandang autis ini.

Kalau dilihat sepintas, anak penyandang autis itu tidak berbeda dengan anakanaklain, tapi kala dia ber-interaksi dengan teman2 nya, baru akan terlihat”keunikan” anak itu. Dari cara berbicara maupun cara berkomunikasi sangatberbeda dengan anak-anak lain seusianya.Kebanyakan dari anak penyandang autis itu:Walaupun tidak bisu, tapi terlambat “berbicara”,Walaupun tidak tuli, tapi tidak biasa “mendengar”,Walaupun tidak suka bertatap mata, tapi tetap “melihat”,Saya katakan “kebanyakan” karena tidak semua illustrasi yang saya tulis di atasitu ada pada anak-anak autis.Yang pasti autisme itu bukan penyakit, tapi berupa “gangguan perkembangan”.Autisme atau biasa disebut ASD (Autistic Spectrum Disorder) adalah gangguanperkembangan fungsi otak yang komplex dan sangat bervariasi (spektrum).Biasanya gangguan perkembangan ini meliputi cara berkomunikasi, ber-interaksisosial dan kemampuan ber-imajinasi. Dari data para ahli diketahui penyandangASD anak lelaki lebih banyak (empat kali lebih banyak) dibanding penyandangASD anak perempuan.Sengaja saya sebut sebagai “penyandang” bukan “penderita” karena memangAutisme dipercaya adalah bukan suatu penyakit seperti penyakit flu, pusing atausejenisnya yang bisa dengan mudah sembuh dengan obat tertentu.Secara sekilas, penyandang autis bisa terlihat seperti anak denganketerbelakangan mental. Tapi sebenarnya sangat berbeda. Diagnosa yang akuratdapat membantu para dokter/ahli menentukan terapi apa yang tepat. Selain ituperlu diketahui bahwa Autis itu adalah Spektrum Autis. Karena “spektrum”maka jenis/ciri penyandang autis itu ada banyak, untuk gampangnya seringorang menyebutnya sebagai autis yang “sangat berat”, “berat”, “agak berat”,”ringan”, “agak ringan”, dan “sangat ringan”…… Walaupun sebenarnya banyakahli mengatakan bahwa penggunaan istilah berat/parah dan ringan/tidak parahbisa menyesatkan. Istilah berat/parah tentu akan membuat orang tua merasafrustrasi dan sebaliknya jika dikatakan ringan, maka orang tua akan merasasenang dan lengah serta berhenti berusaha karena merasa anaknya akan sembuhsendiri.Pada kenyataannya, baik ringan ataupun berat, tanpa penanganan terpadu danintensif, penyandang autisme sulit untuk mandiri dan hidup normal sepertilayaknya anak/orang kebanyakan. Ini yang membuat orang tua akan merasaseperti di “samber geledek” saat pertama menerima diagnosa bahwa anaknyapositif autistik. Apalagi kesadaran masyarakat kita untuk menerima “perbedaan”masih sangat kurang. Ditambah pemerintah juga yang belum terlalu “aware”akan anak dengan kebutuhan khusus seperti ini. Sekolah juga belum semua maumenerima anak-anak penyandang autisme dengan tangan terbuka. Maka bisadibayangkan “perjuangan” yang harus dilalui oleh para orang tua anakpenyandang autis ini.

http://puterakembara.org/archives8/00000002.shtml



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: