Ochamutz91's Blog











{Mei 12, 2010}   bentuk peran keluarga dalam penanganan individu ASD (Autism Spectrum Disorder )

1. Memahami keadaan anak apa-adanya (positif-negatif, kelebihan dan kekurangan).

Langkah ini justru yang paling sulit dicapai orang tua, karena banyak diantara orang tua ‘sulit’ atau ‘enggan’ menangani sendiri anaknya sehari-hari di rumah. Mereka banyak mengandalkan  bantuan pengasuh, pembantu, saudara dan nenek-kakek dalam pengasuhan anak (bagian dari ‘denial’). Padahal, pengasuhan sehari-hari justru berdampak baik bagi hubungan interpersonal antara anak dengan orang tuanya, karena membuat orang tua

•    memahami kebiasaan-kebiasaan anak,

•    menyadari apa yang bisa dan belum bisa dilakukan anak,

•    memahami penyebab perilaku buruk atau baik anak-anak,

•    membentuk ikatan batin yang kuat yang akan diperlukan dalam kehidupan di masa depan.

Sikap orang tua saat bersama anak sangat menentukan. Bila orang tua bersikap mengecam, mengkritik, mengeluh dan terus menerus mengulang-ulang pelajaran, anak cenderung bersikap menolak dan ‘masuk’ kembali ke dalam dunianya.

Ada baiknya orang tua dibantu melihat sisi positif keberadaan anak, sehingga orang tua bisa bersikap lebih santai dan ‘hangat’ setiap kali berada bersama anak. Sikap orang tua yang positif, biasanya membuat anak-anak lebih terbuka akan pengarahan dan lalu berkembang ke arah yang lebih positif pula. Sebaliknya, sikap orang tua yang menolak (langsung atau terselubung) biasanya menghasilkan individu autis yang ‘sulit’ untuk diarahkan, dididik dan dibina.

2. Mengupayakan alternatif penanganan sesuai kebutuhan anak.

Alternatif penanganan begitu banyak, orang tua tidak tahu harus memberikan apa bagi anaknya. Peran dokter disini sangat penting dalam membantu memberikan ketrampilan kepada orang tua untuk dapat menetapkan kebutuhan anak.

Satu hal penting yang perlu diingat oleh setiap orang tua adalah bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda dari anak lain. Greenspan (1998) menekankan bahwa setiap anak memiliki profil yang unik dan spesifik. Individual differences (perbedaan individu) ini tertampil pada

–       bagaimana anak memproses informasi (gaya belajar), bereaksi terhadap sensasi, merencanakan tindakan, dan merunut perilaku atau pikiran mereka;

–       derajat kapasitas fungsi emosional, sosial dan intelektual mereka;

–       pola interaksi dan komunikasi mereka;

–       kepribadian mereka;

–       dan pola pengasuhan keluarga mereka.

Tentu saja perbedaan individu ini sangat berpengaruh dalam rancangan intervensi yang melibatkan orang tua, terapis dan pendidik.

Hodgdon (1999) menjelaskan, ada beberapa langkah yang dapat membantu orang tua mengembangkan alternatif solusi efektif bagi masalah mereka yakni:

a.     Observasi perilaku

Mengingat bahwa kebanyakan perilaku didasari kebutuhan tertentu, penting untuk pahami perilaku sehingga dapat mendeskripsikan situasi yang terjadi. Untuk dapat memahami perilaku dan alasan yang mendasarinya, ada beberapa teknik observasi dan pencatatan yang dapat dipilih yaitu: ABC, Functional Behavioral Analysis dan Data Collection.

Dalam makalah ini akan diulas satu teknik saja, yaitu teknik yang paling sederhana tetapi memberikan masukan secara menyeluruh mengenai masalah yang dihadapi:

A – B – C

A =  Antecedent     ( apa yang terjadi SEBELUM perilaku terjadi )

B =  Behavior         ( apa yang dilakukan anak )

C =  Consequence   ( apa yang terjadi SESUDAH perilaku, atau akibat dari perilaku )

Cara ini sederhana tetapi dapat membantu kita mengetahui apa yang mendahului atau mengikuti suatu perilaku sehingga dapat dilakukan modifikasi sesuai kebutuhan.

Contoh:

Ita sedang duduk di meja sendiri bermain puzzle. Ibu guru Astri mendatangi dan mengajak Ita duduk di teras (consequence). Ita langsung berteriak dan menangis kencang (behavior). Apa sebab?

Ternyata sebelum ibu guru Astri mendatangi Ita, ibu guru Erni sambil berlalu di depan Ita mengatakan (antecedent) “Hati-hati duduk di teras, ada ulat bulu” (tanpa menyadari bahwa Ita mendengar perkataan tersebut). Jadi, Ita berteriak BUKAN karena perilaku ibu guru Astri, tetapi karena membayangkan ada ulat bulu di teras dan ia diminta mendekatinya. Begitu tahu kejadian yang mendahului (antecedent), ibu guru Astri menjelaskan bahwa “Ulat bulu sudah dihilangkan, jadi tidak apa-apa duduk di teras” dan Ita bersedia duduk di teras bersama teman yang lain.

Tanpa upaya mencari tahu apa yang mendahului perilaku, sulit memberikan konsekuensi yang sesuai.

Orang tua harus mahir melakukan pengamatan perilaku anaknya, mengingat bahwa gangguan perkembangan autism banyak termanifestasi dalam bentuk gangguan perilaku.

b. Analisa dan interpretasi

Sesudah kita mendeskripsikan perilaku, kita perlu memahami dengan melakukan analisa sehingga kita paham apa yang kita lihat. Tujuannya adalah untuk dapat mengetahui KENAPA perilaku tersebut terjadi (setiap masalah perilaku didasari adanya hambatan/kesulitan tertentu (Schopler, 1995)… agar dapat dilakukan pencegahan atau penanganan terhadap perilaku-perilaku tersebut.

Hodgdon (1999) menekankan bahwa langkah ini penting guna dapat menemukan solusi efektif jangka panjang. Dasarnya adalah bahwa:

Ÿ          Masalah perilaku jarang merupakan kejadian sederhana. Semakin kita memahami situasi dari sudut pandang anak, semakin efektif solusi kita.

Ÿ          Mitra komunikasi atau orang yang berhubungan langsung saat terjadinya masalah perilaku mungkin punya sudut pandang yang berbeda dari anak.

Ÿ          Pengamat luar (=observer) mungkin melihat situasi secara berbeda dari orang lain yang secara langsung terlibat. Seringkali lebih mudah melihat perilaku secara utuh bila kita tidak terlibat secara langsung dalam kejadian tersebut (tidak ada keterlibat-an emosional).

Ÿ          Melalui analisa seringkali SEBAB dan ALASAN terjadinya perilaku dapat diketahui. Kadang sulit ditemukan jawaban yang jelas. Dalam keadaan demikian tidak ada salahnya untuk “menebak” atau menetapkan “hipotesa” sampai dapat diperoleh informasi yang lebih jelas (daripada tidak melakukan apapun).

c. Kembangkan solusi

Sesudah dilakukan analisa dan diketahui penyebab atau konsekuensi dari perilaku tertentu, dapat diupayakan pengembangan solusi atas masalah perilaku.

Tujuan solusi adalah:

–        Pencegahan masalah perilaku di kemudian hari.

–        Menyediakan sarana & prasarana untuk mengatasi masalah bila terjadi lagi

Ingat bahwa: “TIDAK melakukan apapun” seringkali sama pentingnya dengan mengambil langkah solusi, tergantung pada situasi saat masalah perilaku tersebut terjadi.

Misal: bisa diketahui bahwa anak tertawa terkekeh-kekeh tanpa henti sesudah ia mengkonsumsi gula (teh manis), maka dokter perlu menjelaskan mekanisme masalah pencernaan anak sehingga orang tua paham dan bekerja keras mengurangi konsumsi gula di kemudian hari.

Atau, setelah terlihat bahwa anak tantrum karena sesudah tantrum mendapatkan ‘upah’ permen, dokter dapat mengarahkan orang tua untuk menghentikan pemberian tersebut dan menggantinya dengan intervensi lain agar perilaku tantrum menghilang.

d. Pilih strategi yang sesuai

Banyak strategi yang tersedia, tapi tentu saja pemahaman akan masing-masing strategi penting dijelaskan kepada orang tua. Strategi-strategi tersebut, antara lain didasari prinsip sebagai berikut:

–        Komunikasi sering adalah bagian dari masalah perilaku, maka meningkatkan kemampuan anak berkomunikasi harus dipertimbangkan untuk mengurangi derajat frustrasi yang seringkali mendasari perilaku bermasalah. Beberapa strategi komunikasi dengan alat bantu adalah PECS (Picture Exchange Communication System), Compics (menggunakan simbol Ya/Tidak, melakukan pilihan), dsb.

–        Dengan demikian anak diharapkan dapat memperoleh keinginan dan kebutuhan-nya dengan lebih efektif tanpa perilaku negatif, dapat berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang sama-sama mereka nikmati, dan pada akhirnya diharapkan dapat berpartisipasi secara efektif dalam berbagai aspek kehidupannya.

–        Karena hampir semua penyandang ASD adalah visual learner, maka menggunakan  strategi visual perlu dijadikan pertimbangan dalam usaha memodifikasi perilaku. Penggunaan icon-icon visual untuk mengatur perilaku, membuat skedul, mengajar kemandirian dan meningkatkan pemahaman perlu juga dipertimbangkan agar proses pengajaran dapat berlangsung efektif efisien.

–        Sikap mitra komunikasi. Kadangkala perubahan justru harus dimulai dari mitra komunikasi. Bagaimana mitra komunikasi memodifikasi gaya komunikasi atau perilakunya dapat secara signifikan mempengaruhi perilaku anak.

Mitra komunikasi disarankan untuk berbicara singkat, lugas dan jelas. Kata-kata abstrak, bermakna ganda, sarat dengan perintah dan pertanyaan sebaiknya dihindari. Terus menerus menggunakan ‘bahasa terapi’ juga tidak disarankan, karena cenderung membuat anak tidak fleksibel.

–        Pemahaman memegang peranan besar dalam perkembangan kemampuan berkomunikasi, karena itu peningkatan pemahamananak perlu dilakukan melalui berbagai cara. Antara lain melalui teknik ABA (applied behavioral analysis), melalui pengalaman sehari-hari yang direkayasa, pendampingan intensif, pengulangan, generalisasi dan sebagainya.

e. Evaluasi rencana

Rencana yang telah ditetapkan harus selalu dievaluasi, agar kita memperoleh masukan apakah strategi yang dipilih dapat menyelesaikan masalah atau sebaliknya.

3. Melakukan intervensi di rumah

Bagaimanapun hebatnya seorang terapis atau sebuah tempat terapi, guru terbaik adalah orang tuanya. Orang tua (tidak harus ibu) melakukan apapun demi kebaikan anaknya, tanpa pamrih, dan tidak mengenal kata “percuma”.

Apalagi, dari waktu yang dilewatkan bersama, hubungan kedekatan antara orang tua dan anak dapat terbentuk.

Meskipun semakin intensif semakin baik, intervensi ini tidak harus dalam bentuk penanganan terus menerus setiap hari (karena banyak orang tua harus bekerja). Setidaknya ada usaha dari orang tua dan keluarga untuk terus menerus melakukan pendampingan pada anaknya sehingga mereka terlibat secara langsung dalam proses pengajaran anak. Keterlibatan langsung ini SANGAT berpengaruh pada perkembangan anak.

http://puterakembara.org/rm/peran_ortu.shtml



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: