Ochamutz91's Blog











{Mei 12, 2010}   Gaya belajar individu autisme

Setiap individu mempunyai gaya tersendiri dalam upayanya mencerna informasi secara efektif. Pada umumnya kita belajar melalui indra penglihatan, perabaan dan atau pendengaran. Kita juga punya aneka gaya dalam mengingat. Ada individu yang lebih ingat fakta daripada orang lain. Ada yang lebih suka detil, sementara orang lain tidak suka pada detil. Bagaimana dengan individu autisme ?  Ada beberapa gaya belajar yang dominan pada diri mereka (Sussman, 1999):

*      Rote learner: Anak yang memakai gaya belajar ini, cenderung menghafalkan informasi apa adanya, tanpa memahami arti simbol yang mereka hafalkan itu. Contoh: anak dapat mengucapkan huruf dengan baik secara urut (atau melengkapi urutan abjad yang tak lengkap), tetapi sesungguhnya tidak tahu bahwa huruf itu bila digabung dengan huruf lain akan menjadi kata yang mengandung makna. Atau, anak yang dapat menghafalkan angka, tidak: Anak tahu bahwa simbol itu mewakili ‘jumlah’ benda.

*      Gestalt learner: Bila anak menghafalkan kalimat-kalimat secara utuh tanpa mengerti arti kata-per-kata yang terdapat pada kalimat tersebut, anak cenderung belajar menggunakan gaya ‘gestalt’ (melihat sesuatu secara global). Berbeda dengan anak non-autis yang belajar bicara justru mulai dari kata-per-kata, anak autis dengan gaya ‘gestalt’ akan belajar bicara dengan mengulangi seluruh kalimat. Ia ingat seluruh kejadian, tetapi sulit memilah mana yang penting dan mana yang tidak. Ia mungkin akan sulit menjawab pertanyaan tentang salah satu detil.

Misalnya, Anda berikan mainan karet yang biasanya dimainkan sambil mandi dan mengatakan “letakkan di air”, ia akan dapat melakukannya. Tetapi bila Anda berikan mainan yang sama lalu mengatakan “letakkan di rak mainan”, ia akan tetap meletakkannya di air. Ia tidak paham makna kata ‘letakkan’ tetapi hanya mengasosiasikan seluruh kalimat dengan kebiasaannya saja. Berbeda dengan anak non-autis yang belajar bicara justru mulai dari kata-per-kata, anak autis dengan gaya ‘gestalt’ akan belajar bicara dengan mengulangi seluruh kalimat. Ia ingat seluruh kejadian, tetapi sulit memilah mana yang penting dan mana yang tidak. Ia mungkin akan sulit menjawab pertanyaan tentang salah satu detil.

*    Visual learner:  Anak dengan gaya belajar ‘visual’ senang melihat-lihat buku atau gambar atau menonton TV dan umumnya lebih mudah mencerna informasi yang dapat mereka lihat, daripada yang hanya dapat mereka dengar. Berhubung penglihatan adalah indra terkuat mereka, tidak heran banyak anak autis sangat menyukai TV/ VCD / gambar.

*    Hands-on learner:  Anak yang belajar dengan gaya ini, senang mencoba-coba dan biasanya mendapatkan pengetahuan melalui pengalamannya. Mulanya ia mungkin tidak tahu apa arti kata ‘buka’ tetapi sesudah Anda letakkan tangannya di pegangan pintu dan membantu tangannya membuka sambil Anda katakan ‘buka’, ia segera tahu bahwa bila Anda katakan ‘buka’ berarti .. ia ke pintu dan membuka pintu itu. Anak-anak ini umumnya senang menekan-nekan tombol, membongkar mainan dsb.

*    Auditory learner:   Anak dengan gaya belajar ini senang bicara dan mendengarkan orang lain bicara. Ia mendapatkan informasi melalui pendengarannya. Jarang sekali anak autis bergantung sepenuhnya pada gaya ini dan biasanya menggabungkannya dengan gaya lain.

Tanpa mengesampingkan fakta bahwa setiap individu autis memiliki ciri khas yang berbeda-beda, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kaitannya dengan kegiatan belajar-mengajar, pada umumnya mereka memiliki ciri khas sebagai berikut:

CIRI YANG DAPAT MEMBANTU CIRI YANG DAPAT MENJADI KENDALA

–   Daya ingat baik, dapat mengingat in-formasi (rote learner, gestalt learner)

–   Mudah memahami dan mengingat berbagai hal yang ia lihat atau ia pegang (visual learner & visual thinking)

–   Mudah memahami berbagai hal yang ia alami (hands-on learner)

–   Dapat ditingkatkan pemahamannya, bah-kan sebagian besar di antara mereka tidak terganggu daya tangkapnya

–   Dapat diarahkan, dapat dibantu aktualisasi potensi

•   Sulit memahami instruksi yang disampaikan
secara verbal dan merupakan rangkaian

•  Sulit melakukan dua hal sekaligus, karena berpikir secara ‘mono’ (tunggal)

•  Proses berpikir visual lebih lambat daripada proses berpikir ‘biasa’ sehingga perlu jeda
sebelum berespons

•  Ketakutan berlebihan/irasional akan sesuatu

•  Fiksasi akan sesuatu, berpikir kaku

•  Sulit persepsi irama (ritme)

•  Sulit berdialog dan berkomunikasi

•  Sulit pahami aturan-aturan sosial

http://puterakembara.org/rm/sekolah.shtml



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: