Ochamutz91's Blog











{Mei 12, 2010}   Yang harus diperhatikan dalam menangani anak Autism Spectrum Disorder di rumah

**  Fokus kita adalah pada (Hodgdon, 1999):

Meningkatkan pemahaman &  mengajarkan ketrampilan baru.

Jadi, tujuan utama penanganan: pemahaman BUKAN bicara/ pengungkapan.

Orang tua HARUS dibantu mengerti bahwa sebagian populasi autism memang tidak bisa verbal, tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi pemahaman mereka. Seringkali orang tua kecil hati dan putus asa karena anaknya tidak bisa verbal (yang berhubungan dengan daerah gangguan perkembangan di otak), padahal anak sudah sangat membaik perkembangannnya. Dokter perlu membantu orang tua melihat sisi positif perkembang-an anak, agar orang tua bisa menghargai perubahan yang terjadi sehingga bersikap lebih positif pula.

Kesadaran bahwa sebagian populasi autism memang non-verbal perlu juga ditekankan, agar orang tua dapat beralih kepada alat bantu komunikasi yang bisa dipelajari. Tujuan kita adalah memberi anak kemudahan untuk mengekspresikan diri melalui berbagai cara, sehingga anak tidak frustrasi, dan bisa berperilaku lebih positif.

**     Salah satu cara yang dapat dilakukan orang tua di rumah dengan segera adalah dengan
PENDAMPINGAN INTENSIF.

Pendampingan yang dimaksud disini bukanlah menemani, tetapi memastikan adanya interaksi aktif antara anak dengan pengasuh/orang tua yang ada di sekitarnya.  Tujuan pendampingan intensif bukan saja untuk membina kontak batin terus menerus dengannya (bukan sekedar kontak mata), tetapi meningkatkan PEMAHAMAN anak yang umumnya cenderung terbatas.

Pendampingan ini dilaksanakan sejak anak mulai membuka mata, hingga saatnya ia tertidur kembali di malam hari. Saat pendampingan intensif, tugas siapapun yang menemani anak untuk memberikan informasi dan pengalaman dalam berbagai bentuk kepada anak. Penting sekali untuk TIDAK membiarkan anak sendirian tanpa melakukan apa-apa.

Berikan pengalaman sebanyak mungkin, disertai pengarahan. Anak harus tahu, bahwa dunia ini sarat dengan makna. Dengan mengikuti kemana ia pergi, memberi tahu apa yang ia pegang atau lihat, menjelaskan berbagai kejadian yang ia alami, kita memberi makna pada hidupnya.

Lebih penting lagi, berikan kesempatan pada anak untuk melakukan berbagai hal. Mungkin pada awalnya dibantu tetapi sambil mengajarkan cara mengerjakannya sendiri. Jangan layani ia setiap saat, karena anak akan cenderung belajar untuk tidak berdaya bila terus menerus dibantu. Holmes (1997)  menggunakan istilah “learned helplessness” (atau ketidakberdayaan yang dipelajari) untuk melukiskan situasi dimana penyandang autisme cenderung belajar menjadi ‘tidak berdaya’ sambil tetap mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Keadaan ‘tidak berdaya’  juga merupakan kondisi yang menyenangkan bagi anak autis karena ia lalu punya kesempatan untuk kembali ‘masuk’ ke dalam dunianya — terbebas dari rasa frustrasi, cemas, dan tertekan saat harus susah payah melalui proses belajar hal baru.

Sebaliknya, keadaan ‘tidak berdaya’ ini merampas seorang penyandang dari hak-haknya untuk hidup mandiri, untuk menentukan sendiri apa yang ingin ia lakukan dan bagaimana melakukannya. Keadaan tersebut juga seolah mengizinkan mereka untuk berperilaku tidak semestinya, karena mereka tidak diajarkan untuk bertanggung jawab atas perilakunya sendiri..

Singkatnya, ‘learned helplessness’ menghambat seorang anak autis mendapatkan hak akan kehidupan yang layak di kemudian hari.

**  Pertanyaan orang tua berikutnya adalah: apa yang akan diajarkan?

Penting sekali untuk berusaha meningkatkan pemahaman anak dalam berbagai bidang: kemampuan berpikir, kemandirian mengurus diri sendiri, ketrampilan sosial, agar setidaknya mendekati kemampuan anak lain seusianya.

Untuk itu harus ditetapkan target ketrampilan. Bagaimana menetapkannya?

Baker & Brightman (1997) dalam bukunya Steps to Independence menganjurkan kita:

▪          Melakukan observasi cara anak melewatkan hari-harinya

▪          Mencatat berbagai hal yang sekarang ANDA lakukan untuknya, dan Anda pikir sudah dapat mulai ia pelajari sendiri (misal: mengikat tali sepatu, membuka baju, mencuci rambut, membereskan mainan, makan, toileting dsb).  Mungkin juga bisa ditambahkan ketrampilan baru (bermain) atau tugas lain yang Anda pikir sudah dapat dipelajari olehnya.

▪          Menyadari bahwa dari sekian banyak hal yang Anda pikir sudah dapat ia pelajari, ada hal yang harus sudah ia kuasai sebelum ia dapat belajar hal tertentu (prasyarat). Seperti: duduk sebelum berdiri, makan dengan garpu sebelum memotong dengan pisau dsb. Jadi, pertimbangkan apa yang sudah dapat ia lakukan, dan apa yang dapat diajarkan sesudah itu.

▪          Menetapkan prioritas. Pilih, hal apa yang PALING berarti bagi sekelilingnya bila dapat dikerjakan anak sendiri. Misal: anak tidak bisa makan sendiri berakibat tidak mungkin pergi makan bersama-sama, anak tidak bisa pakai baju sendiri berarti ibu tidak bisa meluangkan waktu bersama anak lain di pagi hari karena sibuk membantu anak berpakaian.

▪          Melakukan pergerakan dalam langkah-langkah yang kecil, untuk mengupayakan 80%  kemungkinan keberhasilan pada anak. Minta orang tua melakukan analisa tugas (task analysis) dimana kita membagi sebuah tugas dalam langkah kecil untuk diajarkan secara terpisah dan tersendiri. Misal: untuk tugas mandi, langkah-langkah yang tercakup adalah masuk kamar mandi, tutup pintu, buka pakaian, siram badan, pakai sabun, siram badan, keringkan badan dengan handuk, berpakaian, keluar.

▪          Bila salah satu langkah belum dikuasainya, harus diajarkan tersendiri.

Selain ketrampilan/pengetahuan, penyandang ASD penting sekali untuk diajarkan   KEPATUHAN. Mereka yang cenderung “semau-nya sendiri”, cenderung mengalami masalah di lingkungan masyarakat, bila tidak sejak dini dibantu untuk patuh.

Tanamkan pengertian bahwa “hidup ini sarat dengan aturan, dan kamu harus belajar untuk mematuhi sebagian besar aturan tersebut”.

Bagaimanapun pandainya seseorang, bila ia tidak dapat mengikuti aturan yang berlaku.. ia akan dikatakan “tidak tahu aturan” dan seringkali ditolak oleh lingkungannya. Karena itu, ingatkan orang tua untuk mengajarkan aturan-aturan sederhana kepada anak sedari dini. Misal: tidak boleh lempar-lempar barang, tidak boleh makan sambil berlari-lari, harus mau membereskan barang dsb.

Konsistensi disiplin orang tua  =   kunci utama adanya kepatuhan pada anak.

Banyak buku yang dapat dijadikan panduan saat menetapkan program/materi yang akan diajarkan. Buku yang direkomendasikan untuk penanganan awal adalah manual yang disusun oleh seorang ibu dengan dua anak penyandang autisme yang berhasil ‘sembuh’, yakni Catherine Maurice. Bila anak tampak berespons dengan baik, tidak ada salahnya memperluas materi dengan menggunakan buku A Work in Progress (Mc Leaf, 1999)  yang sarat dengan ide dan bahan untuk diajarkan pada penyandang autisme. Selain itu, bisa juga menggunakan Hanen Program (Sussman, 1999) yang menggunakan banyak gambar dan contoh konkrit sehari-hari dalam membantu penyandang autisme belajar berkomunikasi. Buku-buku di atas dan berbagai informasi lain sudah dapat diperoleh di YAYASAN AUTISMA INDONESIA, Jl. Buncit Raya 55 – Jakarta Selatan, telpon 021-7971945. Beritahu orang tua untuk mencari informasi di tempat tersebut, sehingga mereka tidak mendatangi sumber-sumber informasi yang kurang dapat dipertanggung-jawabkan.

Yang jelas, program yang dibicarakan disini adalah perluasan dari apa yang diajarkan orang tua saat penanganan anak di rumah. Perluasan disini maksudnya adalah memasukkan berbagai konsep (seperti warna, bentuk, angka, abjad, berbagai kategori dsb.); disamping juga mengajarkan berbagai pengetahuan yang ia perlukan untuk dapat mengikuti aturan di sekolah / kelompok bermain yang akan ia tempuh nantinya.

Perlu juga diingat untuk membantu anak melatih kemampuan motorik kasar dan motorik halusnya, koordinasi visual motorik, keseimbangan, ketelitian, disamping mempertahankan konsentrasi serta pemusatan perhatian pada detil benda yang ia hadapi. Cara-cara bisa sama, diperluas dengan menggunakan gambar 2 dimensi dan dapat dilakukan di   kamar  khusus dalam posisi duduk, atau menggunakan berbagai teknik aplikatif yang intinya adalah membuat tampilan semenarik mungkin melalui berbagai pengalaman yang memperkaya wawasan anak.

Ingatkan orang tua untuk memastikan bahwa pengetahuan-pengetahuan yang diajarkan di atas dapat ia gunakan segera dalam kehidupan sehari-hari (fungsional), dan ia diberi kesempatan untuk mengaplikasikannya (aplikatif). Peran orang tua dalam proses generalisasi dan praktek teori ini menjadi sangat penting, karena bila tidak dipraktek-kan maka berbagai konsep yang sudah dikuasai anak menjadi seolah mubazir karena tidak terpakai.

** Bagaimana CARA mengajarkan berbagai hal tersebut di atas?

Dalam meningkatkan pemahaman, cara yang disarankan adalah tidak sekedar memberitahu ia apa yang harus ia lakukan (tell=verbal directions), tetapi juga memberi contoh (show=modelling), dan mengarahkan (guide=physical guidance) hingga anak mengerti apa yang diharapkan darinya (Baker & Brightman1997).

a.        Instruksi verbal ( tell = verbal directions ) :

–        hanya diberikan saat anak memperhatikan

–        diberikan dalam kalimat singkat dan lugas, tepat sasaran

–        menggunakan kata-kata yang dipahami anak

b.        Peragaan ( show = modelling ) :

–          mendemonstrasikan apa yang kita maksud dengan instruksi verbal tadi

–          efektif bila dilakukan dengan lambat dan berlebihan

–           porsi peragaan ini dikurangi sedikit demi sedikit, sejalan dengan penguasaan anak

c.        Pengarahan ( guide = physical guidance ):

–           sambil memberikan instruksi dan peragaan kepada anak, kita juga mengarahkan tangan anak secara fisik

–           kita menunjukkan bagaimana melakukan apa yang kita instruksikan tersebut

–           mulanya, KITA yang mengerjakan semua hal, tetapi bertahap kita mengurangi peran dalam pengarahan sehingga anak sedikit demi sedikit dapat mengerjakannya secara mandiri.

Dalam upaya menambahkan pengalaman dan kosa kata baru, kita juga dapat membantu anak untuk belajar dengan (Manolson, 1995):

–       menggunakan gerakan yang dapat ditirunya

–       memberikan nama pada benda/gerakan apapun yang ia lihat/lakukan

–       meniru anak sambil menambahkan kata atau gerakan yang sesuai

–       memberi penekanan pada kata-kata yang bermakna

–       mengulang, mengulang, mengulang kata-kata baru

–       menambahkan ide baru pada hal-hal yang sudah dikuasainya.

Lalu, bila anak mampu mengerjakan sesuatu (atau setidaknya, bagian dari sesuatu), pastikan ada imbalan atas perilaku positifnya tersebut (reward).

Imbalan-imbalan ini sangat diperlukan untuk membangkitkan motivasi anak ASD yang umumnya TIDAK tertarik untuk melakukan apapun. Imbalan dapat diberikan dalam bentuk:

–        perhatian

–        cemilan (makanan/minuman)

–        kegiatan yang ia sukai

–        token (bisa bintang, kupon, chips, tabel jadwal dsb).

** Selain meningkatkan pemahaman, usaha selanjutnya adalah melakukan modifikasi perilaku, untuk sedapat mungkin mengurangi (bahkan menghilangkan) ciri negatif yang ada pada anak. Cara yang seringkali memberikan perubahan adalah dengan mengalihkan perhatian anak agar ia berhenti melakukannya, sambil mengajarkan perilaku lain yang lebih ‘wajar’ dan sesuai untuk anak seusianya (differential reinforcement).

Misal: anak cenderung ‘flapping’  saat ia sangat gembira. Ajak ia bicara saat itu dengan memberikan ‘label emosi’ dan ‘deskripsi situasi’. Ajarkan ia cara lain untuk mengungkapkan kegembiraannya, antara lain dengan tepuk tangan atau tertawa.

Contoh lain: anak cenderung membenturkan kepala untuk mencari perhatian. Cermati gejala awal sebelum ia membenturkan kepala, CEGAH sebelum ia melakukannya dengan memegang kepalanya sampai ia berhenti berusaha. Tidak perlu membujuk atau memarahi, karena justru akan membuat anak makin menggunakan perilaku tersebut untuk mendapatkan perhatian. Bujukan atau omelan Anda, akan ia anggap sebagai perhatian.

Tentu saja upaya ini tidak dapat segera membuahkan hasil. Intensitas dan kontinuitas perlakuan sangat menentukan hasil akhir.

Orang tua yang mudah menyerah, cenderung akan kecewa karena sering (meski tidak selalu)  perlu waktu bertahun-tahun sebelum perilaku negatif bisa berhenti. Perubahan positif penanganan terhadap perilaku, suka atau tidak, berkaitan dengan konsistensi sikap orang tua. Semakin konsisten, semakin kita bisa mengharapkan hasil optimal. Semakin tidak konsisten, semakin jauh dan lama langkah perjalanan yang harus ditempuh sebelum tercapai hasil positif.

Dalam upaya melakukan modifikasi perilaku tadi, kenali pola perilaku yang ia tampilkan, karena sering itu merupakan perwujudan kebutuhan fisiknya akan sesuatu. Misalnya, anak sangat senang melompat di tempat tidur dan ia bisa lakukan berjam-jam. Upayakan adanya trampolin di rumah Anda dan berikan ia waktu (atur waktu tersebut) untuk melompat sepuasnya. Contoh lain, anak cenderung menatap dengan memiringkan wajahnya. Janganlah ia dipaksa untuk melihat secara lurus. Bukan tidak mungkin, ia memiringkan wajahnya karena begitulah caranya menyesuaikan diri dengan kekurangan yang (mungkin) ia miliki. Memaksakan anak untuk bersikap seperti kita, tentu tidak akan menghasilkan apapun bila ia memiliki kebutuhan yang berbeda dari kita.

http://puterakembara.org/rm/peran_ortu.shtml



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: