Ochamutz91's Blog











{Mei 29, 2010}   Anak Autis: Pandanglah Kami secara Normal
JAKARTA, SELASA – Tak sedikit pun kata keluar dari mulut Sue (28). Tatapannya semata terpaku pada tetesan air yang memenuhi sendok plastik kesayangannya. Ditumpahkannya dan kembali tetesan air kran yang mengalir di satu sudut rumahnya di Amerika Serikat ditadah lagi dengan sendok berwarna putih itu.

Cukup sering Sue sendirian melakukan hal itu. Baginya, aktivitas itu membuatnya tenang dan tenteram. Terkadang, Sue melanjutkannya dengan berdiri di depan pintu masuk rumahnya, meski tak jelas apa yang dilihat dan bersandar setelahnya.

Ini adalah cuplikan film dokumenter yang berkisah tentang anak autis, digelar dalam orasi ilmiah bertajuk Perspektif Positif dalam Memahami Autis oleh Dr. Adriana S. Ginanjar, M.S, dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, Selasa (3/3).

Sue hanyalah salah satu dari sekian ratus anak autis di Amerika Serikat. Sementara jumlah anak autis di Indonesia, menurut Adriana, bertambah cukup pesat. Ini terlihat dari makin banyaknya pusat terapi yang menangani anak-anak autis, juga pembahasan di media massa, dan seminar-seminar. Sayangnya belum ada data resmi dari pemerintah tentang jumlah anak autis.

“Di Amerika Serikat, sekitar satu dari 166 anak yang lahir tergolong anak autis. Nah, sayangnya pemerintah kita belum punya data jumlah anak autis seluruh Indonesia. Padahal ini diperlukan untuk memandang seberapa urgent hal ini harus mendapat perhatian agar anak autis tidak dimasukkan pada sekolah normal, seperti yang saat ini terjadi,” terang Adriana.

Lebih lanjut Adriana memaparkan, faktanya sekolah-sekolah normal ternyata belum mampu menangani anak autis. Cara memasukkan anak autis ke sekolah normal, memang memberikan kebanggaan si orang tua bahwa anaknya normal.

“Sementara di lain sisi tidak ada kesiapan dari pihak sekolah dalam menangani anak autis termasuk teman-temannya yang kerap memperlakukan si anak autis dengan cara berbeda,” terangnya.

Karena itu, menurut Adriana, perlu penanganan khusus terhadap anak autis. Memang, lanjut Adriana, menangani anak autis tidak mudah. Perlu ada kerjasama lebih baik dari guru dan orang tua yang berorientasi pada pengembangan diri dan menjauhkan anak dari Bullying.

Orantua perlu serius menemukan keunggulan anaknya melalui konsep Multiple Intelligence bahwa kecerdasan bisa beragam. Ada kecerdasan matematis, kinetik, matematis, verbal. Setiap anak autis memiliki ciri khusus dalam kuantitas dan kualitas yang berbeda.

“Ini adalah keunggulan anak autis yang layak dikembangkan,” terang ibu Atmazka Ginanjar yang juga menderita autis. Sehingga tak heran cukup banyak anak yang menunjukan kemampuan di bidangnya, seperti musik, seni, matematika, komputer dan menggambar. Sebagian individu autis memiliki kemampuan luar biasa tanpa melalui proses belajar yang disebut savant, seperti mampu menghafal kamus ensiklopedia secara rinci,.

“Sayangnya penanganan anak autis di Indonesia cenderung menekankan pada kekurangan (defisit), bukan pada penggalian dan pengembangan potensi,” lanjut Adriana. Padahal, pengembangan potensi dapat digunakan sebagai kompensasi dari defisit yang ada.

Karena itu, cara terbaik memahami mereka adalah dengan berusaha mengenali mereka tanpa prasangka tertentu, apalagi membandingkan mereka dengan individu normal.

“Kita juga harus menggunakan perspektif holistik dan positif, yaitu memandang anak autis sebagai individu yang utuh dan memiiki potensi kreatif,” pungkasnya.

Kenali individu autis lebih dalam, hargai keunikan mereka, serta percaya bahwa mereka juga mampu berfikir dan mengembangkan diri, maka kita akan membantu mengembangjan individualitas dan potensi mereka secara optimal, terang Adriana.

“Kita bisa saksikan individu autis yang sukses seperti Oscar Dompas-autis asal indonesia yang sekarang menjadi pengusaha sekaligus penulis buku, Jasmine Lee O’Neil-penulis perempuan autis, Donna Williams-penulis perempuan autis,” ujarnya.

Jadi kenali penderita Autis dengan cara berbeda. Pandanglah, bahwa mereka memiliki keunggulan tersendiri, himbau Adriana.

Sumber: Kompas.com

http://www.childcare-center.com/artikel/169-menelusuri-gangguan-spektrum-autistik.html



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: